Batamramah.com, Tanjungpinang - Waktu menunjukkan sekitar
pukul 16.30 WIB ketika sejumlah pedagang mulai sibuk menata meja, kursi, dan
perlengkapan dagang masing-masing jelang berbuka puasa Ramadhan tiba.
Mereka adalah pelaku UMKM yang mengambil bagian pada
kegiatan bazar Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) tahun 2025
di pelataran Tugu Sirih, Taman Gurindam 12, Kota Tanjungpinang.
Ada puluhan deretan anjungan UMKM berdiri di area tersebut,
tepatnya di zona A Tugu Sirih. Ini jadi pemandangan lazim pada sore hingga
malam hari selama bulan Ramadhan 1446 Hijriah/2025 Masehi.
Pemerintah sebenarnya melarang adanya kegiatan jualan di
situ karena merupakan zona bebas aktivitas pedagang, kecuali untuk acara-acara
tertentu masih diperbolehkan, salah satunya bazar KURMA.
Ajang tahunan edisi khusus Ramadhan itu menjadi momen bagi
para pelaku UMKM meraup untung di bulan penuh berkah.
Jesica, pedagang UMKM minuman Teh Poci (teh es) dengan
berbagai varian rasa, mengaku dalam sehari bisa menjual 50 sampai 150 cup.
Harga per cup Teh Poci bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp9.000.
Penghasilan dia per hari di kisaran Rp500 ribu sampai Rp1 juta.
Setali tiga uang dengan Dika, pedagang dimsum, yang bisa
meraup cuan hingga Rp500 ribu per hari, dengan harga Rp20 ribu per porsi.
Pembelinya tidak hanya dari kalangan masyarakat muslim, tapi juga non-muslim
yang didominasi warga Tionghoa.
Para pedagang sangat mengapresiasi pelaksanaan bazar KURMA.
Kegiatan itu mampu mendongkrak omset penjualan hingga 100 persen dibanding
hari-hari biasanya atau di luar Ramadhan, serta mempromosikan produk-produk
halal kepada masyarakat, terutama makanan dan minuman. Mereka berharap kegiatan
serupa digelar setiap tahun.
Bazar UMKM ini merupakan rangkaian kegiatan KURMA 2025 yang
diinisiasi oleh Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Komite Daerah Ekonomi
Keuangan Syariah (KDEKS), serta didukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri.
Kegiatan digelar di dua lokasi berbeda, yaitu Kota
Tanjungpinang (10-16 Maret 2025) dan Kota Batam (17-23 Maret 2025).
Selain bazar, ada berbagai program unggulan lainnya yang
digelar dalam waktu bersamaan, mulai dari UMKM Expo, Business
Matching, Seminar Ekonomi Syariah, Layanan Sertifikasi Halal, Talkshow Literasi
Keuangan Syariah, dan Festival Fashion Show.
Acara tersebut dibuka secara resmi Menteri Kebudayaan RI
Fadli Zon di Tugu Sirih pada tanggal 10 Maret 2025.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menekankan bahwa Kepri
merupakan “melting pot”, tempat bertemunya berbagai suku bangsa dan
agama, yang hingga kini tetap terjaga dalam harmoni dan toleransi.
Ia sangat mengapresiasi tradisi Ramadhan di Kepri yang
diperkaya melalui KURMA 2025 yang menghadirkan ekosistem yang menghubungkan
pelaku UMKM dan ekonomi berbasis budaya, digitalisasi keuangan, serta penguatan
literasi keislaman.
KURMA merupakan langkah strategis bagi percepatan ekonomi
dan keuangan syariah di Kepri. Acara ini menjadi sarana bagi pelaku usaha,
komunitas, dan masyarakat untuk berkolaborasi menguatkan ekosistem syariah yang
unggul dan berkelanjutan.
Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi
dan keuangan syariah di "Bumi Segantang Lada", sekaligus meningkatkan
kesadaran masyarakat akan produk dan jasa halal.
Geliat ekonomi
Penyelenggaraan KURMA dinilai penting karena Ramadhan bukan
hanya bulan penuh berkah dan amal kebajikan, namun juga merupakan salah satu
faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi syariah. Konsumsi masyarakat
biasanya meningkat pada momentum Ramadhan dan Lebaran, terutama pada produk
makanan hingga fesyen.
Oleh karena itu, Bank Indonesia Kepri bersama pihak-pihak
terkait memfasilitasi minat beli masyarakat melalui bazar UMKM syariah,
sehingga diharapkan ikut mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Hal itu terbukti dengan capaian transaksi penjualan UMKM
selama event KURMA yang meningkat 100 persen dibanding
penyelenggaraan KURMA perdana tahun 2024, yaitu dari Rp1 miliar menjadi Rp2,3
miliar.
Kepala BI Kepri Rony Widijarto P memandang pentingnya UMKM
syariah guna mendukung transaksi masyarakat sekaligus menjaga harga kebutuhan
tetap stabil serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian Kepri
Selain itu, sektor UMKM syariah punya peran strategis dalam
mendukung penyerapan tenaga kerja, bahkan sangat terbukti mampu bertahan di
tengah berbagai krisis ekonomi di tanah air, salah satunya saat COVID-19.
BI Kepri juga terus mendorong pengembangan ekosistem halal
dari hulu ke hilir, khususnya menyangkut produk-produk halal yang memiliki
nilai tambah tinggi, misalnya produk olahan makanan khas laut di Kepri. Sejauh
ini, BI Kepri sudah melakukan pendampingan terhadap ratusan UMKM yang telah
melewati proses kurasi produk dengan tujuan meningkatkan daya saing serta
memperluas pangsa pasar ekspor.
Di samping itu, BI Kepri turut meningkatkan akses keuangan
syariah melalui kemajuan teknologi dengan meluncurkan 1.000 QRIS Masjid
yang bertujuan meningkatkan efisiensi transaksi ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah,
dan Wakaf) secara digital, yang diimplementasikan di semua masjid di Kepri.
Termasuk menambah literasi dan inklusi masyarakat Kepri
terhadap ekonomi dan keuangan syariah, melalui berbagai kegiatan sosialisasi,
edukasi hingga kompetisi berbasis syariah.
Literasi masyarakat Indonesia terhadap ekonomi syariah dalam
beberapa tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan cukup tajam, di mulai
tahun 2022 berkisar antara 23,3 persen, lalu 2023 sebesar 28,01 persen, dan
melejit menjadi 42,48 persen pada tahun 2024.
Potensi ekonomi syariah
Kepri merupakan salah satu provinsi dengan jumlah penduduk
muslim terbesar yang memiliki potensi besar pula terhadap pengembangan ekonomi
syariah, ditambah letak geografisnya berbatasan langsung dengan negara serumpun
Malaysia dan Singapura.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan ekonomi syariah
di Kepri terus meningkat, di mana sektor keuangan syariah, industri halal dan
pariwisata halal telah menunjukkan tren positif.
Kepala Divisi Promosi dan Kerja sama Strategis Komite
Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Inza Putra menyampaikan tonggak
penting pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Kepri dimulai dari adanya
konversi Bank Riau Kepri menjadi Bank Riau Kepri Syariah (BRKS).
Selanjutnya, potensi industri halal di Kepri juga sangat
besar, terutama di sektor makanan, minuman, dan kosmetik. Makanya, bazar KURMA
mayoritas menjual produk makanan serta minuman.
Sektor pariwisata halal di Kepri pun terus bertumbuh, yang
ditandai dengan berkembangnya usaha kuliner, usaha budaya, serta adanya objek
wisata sejarah "Pulau Penyengat" yang terkenal hingga ke mancanegara.
Kepri juga memiliki kawasan industri halal percontohan di
Indonesia, yakni Bintan Inti Halal Hub di Kabupaten Bintan.
Menurut Inza Putra, Kepri saat ini menjadi satu di antara 13
provinsi di Indonesia yang menyelenggarakan kegiatan Ramadhan Fair,
yang juga dikemas di tingkat nasional yaitu National Halal Fair.
Kegiatan Ramadhan Fair berangkat dari ide
KNEKS berawal bahwa di setiap daerah di Indonesia menjelang Ramadhan dan
Lebaran sudah pasti menggelar bazar hingga pasar murah, namun belum
terorganisir dengan baik.
Oleh karena itu, KNEKS melalui KDEKS Kepri berupaya
menjadikan kegiatan Ramadhan Fair ke depan sebagai event nasional
yang bisa dibanggakan dan menjadi suatu kebangkitan ekosistem ekonomi syariah
di Indonesia.
KNEKS akan mendorong seluruh provinsi secara nasional
melaksanakan acara Ramadhan Fair, seperti halnya KURMA yang sudah
digelar di Kepri dengan tujuan mendukung pengembangan ekonomi syariah.
Dukungan Pemprov Kepri
Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengapresiasi pelaksanaan KURMA
2025, bukan hanya sebagai ajang ekonomi tapi juga mendukung sektor pariwisata.
Geliat ekonomi selama ajang itu berlangsung menunjukkan
bahwa perputaran ekonomi masyarakat di Kepri cukup tinggi di tengah adanya
kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Acara serupa diharapkan digelar setiap tahunnya dengan
menyasar seluruh kabupaten/kota se-Kepri guna mewujudkan akses pemerataan
ekonomi.
Gubernur Ansar menyatakan Kepri berkomitmen penuh mendukung
pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang dibuktikan dengan berbagai
program dan upaya yang telah dilakukan, antara lain mendorong pengembangan
pelaku UMKM syariah dengan memberikan pinjaman modal usaha, subsidi bunga
margin 0 persen melalui Bank Riau Kepri Syariah.
Berdasarkan data, sejak November 2021 sampai Desember 2024
total penyaluran modal usaha itu sudah mencapai Rp30,7 miliar kepada 1.409
UMKM. Masing-masing pinjaman maksimal Rp40 juta, sementara margin bunga 100
persen ditanggung Pemprov Kepri.
Pemerintah optimistis agenda KURMA 2025 semakin memperkuat
ekosistem ekonomi syariah di Kepri serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan
pelaku usaha di sektor halal.
Sumber: Antaranews.com